Artikel China Berhasil Produksi Chip 5nm Tanpa Teknologi EUV pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Menkes Izinkan PPDS Praktik demi Finansial, Bagaimana Soal Gaji”
Selama ini, industri menganggap mesin EUV wajib untuk fabrikasi chip 5nm ke bawah. Namun, sanksi Amerika Serikat membuat China tidak bisa mengakses teknologi tersebut.
SMIC memanfaatkan mesin Deep Ultra Violet (DUV) lama dan menerapkan proses rumit Self-Aligned Quadruple Patterning (SAQP). Meski lebih lambat dan mahal, metode ini berhasil menghasilkan chip 5nm yang berfungsi.
Huawei telah menggunakan chip tersebut di perangkat seperti Mate 60 dengan prosesor Kirin 9000S. Melengkapi chip ini dengan fitur panggilan satelit yang belum dimiliki iPhone 15.
Analis William Huo menegaskan bahwa China tidak lagi sekadar meniru teknologi Barat. China kini membangun industri semikonduktor mandiri dengan inovasi sendiri.
Selain chip smartphone, Huawei juga meluncurkan chip AI Ascend 920 berbasis 6nm dari SMIC. Huawei menawarkan peningkatan performa signifikan pada chip ini dibanding generasi sebelumnya.
Sanksi AS justru mendorong pertumbuhan industri chip lokal China. Larangan ekspor chip Nvidia membuat banyak perusahaan beralih ke produk Huawei untuk kebutuhan AI.
SMIC bahkan dikabarkan tengah menguji teknik Self-Aligned Octuple Patterning (SAOP). Tujuannya adalah mendorong teknologi DUV hingga mencapai fabrikasi setara 3nm.
“BACA JUGA : Samsung Rilis Perangkat Rumah Pintar Berbasis AI Terbaru”
Jika berhasil, China akan mendefinisikan ulang standar industri semikonduktor. Langkah ini bisa mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat dan mengubah peta geopolitik rantai pasokan chip dunia.
Artikel China Berhasil Produksi Chip 5nm Tanpa Teknologi EUV pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Samsung Rilis Perangkat Rumah Pintar Berbasis AI Terbaru pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Dulu Nyaris Tutup, Warung Kwetiau Ini Jadi Favorit di BINUS”
Jimmy Tjan, Head of Home Appliances Product Marketing Samsung Indonesia, menjelaskan bahwa Bespoke AI hadir untuk membantu kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Teknologi ini bukan hanya canggih, tetapi juga relevan untuk aktivitas sehari-hari.
Samsung Bespoke AI 2025 terdiri dari tiga perangkat utama. Ada kulkas pintar Bespoke AI, wireless vacuum cleaner Bespoke AI Jet Lite, dan mesin cuci-pengering Bespoke AI Laundry Combo. Pengguna dapat menghubungkan ketiganya ke ekosistem SmartThings dan mengendalikan lewat smartphone.
Pengguna bisa mengatur suhu kulkas, menyalakan vacuum cleaner, hingga memilih mode pencucian hanya dengan ponsel. Kulkas pintar ini dilengkapi layar interaktif AI Home 9 inci dan Family Hub 21,5 inci. Fitur ini memungkinkan pengguna melihat resep, memutar musik, menerima telepon, hingga memantau isi kulkas dengan Food List.
Fitur Auto Open Door memudahkan pengguna membuka pintu kulkas dengan sentuhan ringan atau perintah suara.
Vacuum cleaner Bespoke AI Jet Lite hadir dengan teknologi AI Cleaning 2.0. Perangkat ini mampu menyesuaikan daya hisap sesuai jenis lantai, baik karpet maupun lantai keras.
Untuk urusan mencuci, Samsung menawarkan Bespoke AI Laundry Combo. Mesin ini otomatis mendeteksi berat pakaian, jenis kain, serta kebutuhan air dan deterjen. Fitur Super Speed memungkinkan proses mencuci dan mengeringkan selesai dalam 98 menit. Kapasitasnya mencapai 25 kg untuk mencuci dan 15 kg untuk mengeringkan.
“BACA JUGA : Fakta Monica Sembiring, Wakil Indonesia di Miss World 2024”
Dengan peluncuran ini, Samsung menghadirkan solusi rumah tangga yang cerdas dan praktis. Samsung merancang semua perangkat untuk mempermudah aktivitas sehari-hari dengan teknologi berbasis AI.
Artikel Samsung Rilis Perangkat Rumah Pintar Berbasis AI Terbaru pertama kali tampil pada .
]]>Artikel OpenAI Rugi Puluhan Juta Dolar karena ChatGPT Dipakai Sopan pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Tumis Jengkol Cabai Pedas Gurih yang Bikin Ketagihan”
Altman menjelaskan bahwa kata-kata seperti “terima kasih” dan “tolong” dalam percakapan ChatGPT membuat perusahaan mengeluarkan biaya hingga puluhan juta dolar. Ia menyebut pengeluaran ini sebagai investasi berharga karena membuat interaksi AI terasa lebih manusiawi.
Banyak pengguna menggunakan ChatGPT bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk sekadar berbincang. Kebiasaan mengetik kata sopan muncul secara alami, meski AI tidak memiliki emosi.
Laporan menyebutkan bahwa satu respons singkat seperti “sama-sama” dari ChatGPT bisa menghabiskan sekitar 40-50 mililiter air. Penggunaan energi dan sumber daya ini terjadi karena proses komputasi di balik setiap jawaban AI.
OpenAI sebenarnya bisa memprogram model agar lebih efisien dalam memberikan respons sederhana. Namun, penerapan sistem tersebut tidak semudah yang dibayangkan.
Peneliti dari OpenAI dan MIT juga menyoroti potensi ketergantungan emosional pada chatbot AI. Seiring berkembangnya teknologi, percakapan dengan AI akan semakin mirip dengan percakapan manusia.
Ucapan “terima kasih” setelah AI membantu menyelesaikan tugas menjadi hal yang wajar. Sayangnya, kebiasaan ini ikut berkontribusi pada meningkatnya biaya operasional perusahaan.
“BACA JUGA : Huawei Mulai Produksi Massal Chip AI sebagai Alternatif Nvidia”
Meski demikian, OpenAI tetap menerima fenomena ini sebagai bagian dari pengalaman pengguna. Altman menilai bahwa interaksi sopan adalah bagian penting dalam membangun hubungan yang positif antara manusia dan AI.
Artikel OpenAI Rugi Puluhan Juta Dolar karena ChatGPT Dipakai Sopan pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Huawei Mulai Produksi Massal Chip AI sebagai Alternatif Nvidia pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Metode Efektif Mengobati Patah Tulang hingga Sembuh Total”
Perusahaan AI di China kini mencari alternatif chip lokal setelah Amerika Serikat membatasi penjualan chip Nvidia H20. Pemerintahan Presiden Donald Trump mewajibkan lisensi ekspor untuk chip tersebut, membuat Huawei mengambil peluang ini.
Chip 910C menjadi andalan baru China di bidang AI. Sumber menyebutkan bahwa 910C merupakan pengembangan dari arsitektur sebelumnya, bukan teknologi baru. Huawei menggabungkan dua prosesor 910B dalam satu paket dengan teknik integrasi canggih. Hasilnya, chip ini memiliki performa setara Nvidia H100, dengan daya komputasi dan memori dua kali lipat dari 910B.
Selain itu, 910C menawarkan peningkatan dukungan untuk berbagai beban kerja AI. Huawei belum memberikan pernyataan resmi terkait chip ini.
AS terus membatasi akses China terhadap chip AI canggih demi menekan perkembangan teknologi dan militer China. Larangan ini membuka peluang bagi Huawei serta perusahaan GPU lokal seperti Moore Threads dan Iluvatar CoreX untuk menguasai pasar dalam negeri.
Kini, GPU Ascend 910C menjadi pilihan utama pengembang AI di China setelah Nvidia H20 terkena pembatasan ekspor. Huawei mulai mendistribusikan sampel chip ini sejak akhir tahun lalu dan sudah menerima pesanan dari berbagai perusahaan teknologi.
Belum ada kepastian mengenai perusahaan yang memproduksi chip ini secara penuh. Sumber menyebutkan bahwa SMIC memproduksi beberapa komponen utama 910C dengan teknologi 7nm, meski produksinya masih terbatas.
Sebagian chip 910C juga menggunakan komponen buatan TSMC untuk perusahaan Sophgo asal China. Departemen Perdagangan AS telah menyelidiki keterlibatan TSMC dalam produksi ini. TSMC menegaskan bahwa mereka mematuhi semua regulasi dan telah menghentikan pasokan ke Huawei sejak 2020.
“BACA JUGA : Koran Italia Uji Coba Artikel Full AI, Begini Hasilnya”
Dengan langkah ini, Huawei menunjukkan kesiapannya menjadi pemain utama dalam industri chip AI di tengah tekanan global.
Artikel Huawei Mulai Produksi Massal Chip AI sebagai Alternatif Nvidia pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Koran Italia Uji Coba Artikel Full AI, Begini Hasilnya pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Kerang Saus Cabai Korea, Pedas Gurih Bikin Ketagihan”
Cerasa menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan peran jurnalis di ruang redaksi. Ia melihat AI sebagai alat pendukung, bukan pengganti manusia. Il Foglio bahkan berencana menerbitkan edisi khusus mingguan yang ditulis AI untuk topik tertentu, seperti astronomi.
Menurut Cerasa, beberapa penerbit keliru memanfaatkan AI untuk mengurangi jumlah jurnalis. Ia justru percaya bahwa AI bisa membuka peluang kerja bagi mereka yang mampu memaksimalkan teknologi ini. Cerasa juga yakin AI akan mendorong wartawan menjadi lebih kreatif dan orisinal.
Cerasa mengaku terkesan dengan kemampuan AI dalam menulis artikel bernada ironi dan ulasan buku. AI mampu merangkum buku tebal menjadi kritik mendalam dalam waktu singkat. Namun, AI tetap membutuhkan arahan jelas, termasuk apakah ulasan harus bernada positif atau negatif.
Meski demikian, Cerasa menyoroti kekurangan AI yang tidak memiliki pemikiran kritis. AI selalu mengikuti perintah tanpa bisa menolak atau memberikan pandangan berbeda. Hal ini menjadi perbedaan utama antara jurnalis manusia dan mesin.
Selain itu, Cerasa juga menemukan beberapa kesalahan fakta dari AI. Salah satu contohnya adalah AI yang enggan memperbarui informasi terkait hasil pemilu Amerika Serikat 2024.
“BACA JUGA : Robot vs Manusia di Lomba Maraton China, Ini Pemenangnya”
Cerasa menegaskan bahwa diskusi dan pemikiran kritis adalah kunci jurnalisme berkualitas. Ia percaya AI hanya alat bantu, sementara kreativitas dan analisis tetap menjadi domain manusia.
Artikel Koran Italia Uji Coba Artikel Full AI, Begini Hasilnya pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Robot vs Manusia di Lomba Maraton China, Ini Pemenangnya pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Sejarah Celana Chino Dari Seragam Militer ke Fashion Pria”
Berbagai produsen robot asal China seperti DroidUP dan Noetix Robotics menurunkan robot dengan beragam ukuran. Ada robot setinggi 120 cm hingga yang mencapai 1,8 meter. Salah satu perusahaan bahkan memamerkan robot berwajah mirip manusia, lengkap dengan senyum dan kedipan mata.
Tim teknisi menguji robot-robot ini selama berminggu-minggu sebelum lomba. Pemerintah Beijing menyebut acara ini mirip balapan mobil karena membutuhkan dukungan tim navigasi dan teknis.
“Robot-robot itu berjalan stabil. Saya merasa melihat evolusi robot dan AI,” kata He Sishu, seorang penonton yang bekerja di bidang kecerdasan buatan.
Setiap robot didampingi pelatih manusia. Beberapa pelatih bahkan harus menopang robotnya saat perlombaan berlangsung. Ada robot yang memakai sepatu lari, sarung tinju, hingga ikat kepala bertuliskan “Pasti Akan Menang” dalam bahasa Mandarin.
Robot Tiangong Ultra dari Pusat Inovasi Robotika Manusia Beijing keluar sebagai pemenang dengan waktu 2 jam 40 menit. Sementara itu, pemenang kategori pria mencatatkan waktu 1 jam 2 menit.
Tang Jian, CTO pusat robotika tersebut, menjelaskan bahwa Tiangong Ultra unggul berkat kaki panjang dan algoritma canggih yang meniru cara manusia berlari. Tang juga menyebut robotnya hanya perlu mengganti baterai tiga kali selama lomba.
Namun, tidak semua robot berhasil mencapai garis finis. Beberapa robot mengalami kendala teknis sejak awal. Ada robot yang terjatuh di garis start dan baru bangkit setelah beberapa menit. Robot lain menabrak pagar hingga membuat operator manusianya jatuh.
China terus mendorong pengembangan industri robotika sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Meski begitu, beberapa pihak masih meragukan apakah lomba seperti ini bisa menjadi tolok ukur keberhasilan industri tersebut.
“BACA JUGA : Microsoft Rilis Copilot Vision di Browser Edge untuk Pengguna”
Tang menegaskan bahwa langkah berikutnya adalah mengembangkan aplikasi industri bagi robot humanoid. Ia berharap robot-robot ini bisa segera digunakan di pabrik, bisnis, hingga rumah tangga.
Artikel Robot vs Manusia di Lomba Maraton China, Ini Pemenangnya pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Microsoft Rilis Copilot Vision di Browser Edge untuk Pengguna pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Latihan Perang AS-Filipina Digelar di Tengah Ketegangan China”
Kini, semua pengguna Edge dapat memanfaatkan teknologi AI berbasis computer vision ini tanpa biaya. CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, mengumumkan kabar ini melalui akun X miliknya. Suleyman menyebut Copilot Vision akan memudahkan aktivitas online tanpa perlu menyalin atau menjelaskan secara berulang.
Copilot Vision memungkinkan chatbot AI melihat dan memahami konten halaman web secara real time. Pengguna bisa memberi perintah melalui suara atau teks, sehingga navigasi menjadi lebih efisien.
Fitur ini dapat merangkum ulasan, mendeskripsikan objek visual, hingga membantu pencarian produk berdasarkan deskripsi sederhana. Dengan begitu, pengguna bisa lebih cepat menemukan informasi atau barang yang dibutuhkan saat browsing.
Microsoft menghadirkan Copilot Vision sebagai fitur opsional untuk menjaga privasi pengguna. Pengguna harus mengaktifkannya secara manual melalui pengaturan di browser Edge.
Setelah aktif, pengguna cukup mengetuk ikon mikrofon di bilah sisi Copilot untuk mulai menggunakan mode Vision. Copilot kemudian akan menampilkan bilah mengambang dengan kolom teks dan tombol mikrofon.
Microsoft menegaskan bahwa Copilot Vision hanya aktif saat pengguna mengizinkan. Copilot hanya mengakses layar pengguna saat fitur diaktifkan.
Selain itu, sistem akan menghapus semua data percakapan dan konten halaman web setelah sesi berakhir. Namun, Microsoft tetap mencatat respons Copilot untuk meningkatkan sistem keamanan dan performa AI mereka.
“BACA JUGA : Gigi Copot Bisa Tumbuh Lagi Berkat Teknologi Baru”
Dengan peluncuran ini, Microsoft berharap Copilot Vision dapat menjadi asisten cerdas yang mendukung produktivitas pengguna di dunia digital.
Artikel Microsoft Rilis Copilot Vision di Browser Edge untuk Pengguna pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Gigi Copot Bisa Tumbuh Lagi Berkat Teknologi Baru pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Batas Trekking ke Wae Rebo Hanya Sampai Jam 4 Sore”
Pamela Yelick dan Weibo Zhang memimpin studi tersebut. Mereka menumbuhkan struktur mirip gigi manusia yang hampir menyerupai bentuk dan fungsi gigi asli. Hasil ini mereka publikasikan pada jurnal Stem Cell Translational Medicine edisi Desember lalu. Dalam eksperimen ini, peneliti mengambil sel dari rahang babi yang secara alami memiliki potensi untuk menumbuhkan gigi lebih dari sekali.
Sel-sel ini mereka rekayasa agar meniru proses pertumbuhan gigi manusia. Yelick menyebut bahwa bentuk dan struktur gigi yang dihasilkan sangat mendekati gigi manusia. Selain itu, ia dan timnya mengambil sel dari rahang babi dan kemudian merekayasa sel tersebut di laboratorium. Mereka menumbuhkan jaringan yang menyerupai enamel, dentin, dan pulpa seperti pada gigi asli manusia. Hasilnya menunjukkan kemajuan signifikan menuju gigi buatan yang bisa tumbuh dan menyatu alami dengan rahang manusia. Yelick menyatakan bahwa struktur buatan tersebut sangat mirip dengan gigi, seperti yang ia sampaikan kepada MIT Technology Review.
Cristiane Miranda Franca, seorang ilmuwan dari Oregon Health and Science University yang tidak terlibat dalam riset ini, turut memberikan komentarnya. Peneliti mencatat bahwa gigi hasil rekayasa ini mampu menyatu dengan jaringan gusi secara alami. Tim riset menguji kekuatan dan elastisitas gigi buatan dengan simulasi kunyah. Mereka melihat bahwa struktur gigi ini berpotensi menyesuaikan diri dengan kondisi mulut pasien. Dengan temuan ini, para ilmuwan mendorong langkah lanjutan untuk uji coba pada manusia dalam waktu dekat.
Menurut Franca, gigi buatan dari sel ini tidak hanya bisa berfungsi dengan baik, tetapi juga berpotensi menyatu sempurna dengan jaringan gusi dan tulang rahang. Pakar menilai keunggulan ini melampaui kemampuan teknologi implan gigi saat ini.
Selain itu, penelitian ini menjadi langkah awal menuju solusi alami untuk mengatasi gigi yang copot. Lebih lanjut, teknologi ini membuka peluang untuk tumbuhnya gigi baru di dalam mulut manusia, tanpa harus menjalani prosedur pemasangan implan buatan.
“BACA JUGA : Ilmuwan Peringatkan China Ungguli AS di Bidang Teknologi”
Dokter gigi dapat memasang gigi baru ini tanpa prosedur implan yang rumit. Pasien bisa mengunyah makanan dengan lebih alami, tanpa rasa khawatir gigi akan lepas. Selain itu, jaringan gusi juga bisa menyatu lebih baik dengan gigi baru tersebut. Jika berhasil, teknologi ini akan mengubah cara dunia menangani kehilangan gigi secara permanen.
Artikel Gigi Copot Bisa Tumbuh Lagi Berkat Teknologi Baru pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Ilmuwan Peringatkan China Ungguli AS di Bidang Teknologi pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : 6 Rahasia Pola Asuh Orangtua Belanda Bikin Anak Bahagia”
Menurut McNutt, Amerika memang masih memimpin dalam investasi riset dan pengembangan (R&D). Namun, China terus memperkecil jarak dan siap mengambil alih posisi teratas. AS menghabiskan USD 806 miliar untuk R&D. Di sisi lain, China mengalokasikan USD 668 miliar, dengan pertumbuhan investasi dua kali lebih cepat dari AS.
McNutt menjelaskan bahwa sejak Perang Dunia II, AS memimpin dunia dalam ilmu pengetahuan. Bukti dari kepemimpinan itu antara lain perolehan hampir 60 persen dari seluruh Hadiah Nobel. Namun, tren terbaru menunjukkan dominasi itu mulai memudar.
China tidak hanya mengejar dari segi dana, tetapi juga dari segi publikasi ilmiah. Jumlah makalah ilmiah yang diterbitkan dan dikutip dari China kini melampaui AS. Dalam hal jumlah paten yang diajukan, China juga sudah menggandakan capaian AS.
McNutt mengungkapkan keprihatinan atas tren tersebut. Ia menilai bahwa dominasi ilmiah AS akan hilang jika negara ini tidak cepat beradaptasi. Ia mendorong para ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk berani mencoba pendekatan baru.
Sebagai ahli geofisika dan pemimpin perempuan pertama NAS, McNutt menegaskan pentingnya inovasi dan keberanian mengambil risiko dalam riset. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi perempuan pertama di majalah Science, serta anggota kehormatan di Chinese Academy of Sciences.
“Jika AS ingin mempertahankan keunggulan ilmiah, maka negara ini harus lebih cepat merespons perubahan global,” ujarnya. McNutt menambahkan bahwa para peneliti harus menjadikan kualitas dan dampak penelitian sebagai indikator utama dalam riset mereka.
“BACA JUGA : Teknologi Suara Ini Diklaim Mampu Atasi Mabuk Darat”
AS masih memiliki peluang untuk mempertahankan posisi. Namun, negara ini harus segera merespons perkembangan global yang makin kompetitif, terutama terhadap kemajuan China yang begitu agresif dan konsisten dalam membangun fondasi ilmiah dan teknologinya.
Artikel Ilmuwan Peringatkan China Ungguli AS di Bidang Teknologi pertama kali tampil pada .
]]>Artikel Teknologi Suara Ini Diklaim Mampu Atasi Mabuk Darat pertama kali tampil pada .
]]>“BACA JUGA : Jembatan Kaca Waduk Gajah Mungkur, Uji Adrenalin Seru”
Peneliti Takumi Kagawa dan Masashi Kato memimpin studi ini untuk mencari solusi mabuk darat yang aman dan efektif. Mereka menguji nada murni atau pure tone pada manusia dan hewan uji. Hasilnya, suara frekuensi 100 Hz dengan intensitas 80-85 dBZ mengurangi mabuk perjalanan lebih dari dua jam pada tikus.
Pada manusia, nada murni tersebut mengurangi rasa sempoyongan hanya dalam satu menit. Paparan suara dilakukan sebelum perjalanan, sehingga tubuh lebih siap menghadapi sensasi gerakan kendaraan.
Teknologi ini bekerja dengan menstimulasi bagian dalam telinga, khususnya organ otolitik yang mengatur keseimbangan dan persepsi gravitasi. Stimulasi ini memperkuat sistem vestibular dan menjaga orientasi tubuh selama perjalanan.
Kato menjelaskan bahwa stimulasi suara juga meningkatkan aktivitas saraf simpatik. Saraf ini berperan penting dalam merespons tekanan atau stres. Aktivasi simpatik yang stabil membantu mengurangi rasa pusing dan mual.
“Suara ini mengaktifkan sistem saraf secara positif, menjaga tubuh tetap seimbang selama berkendara,” ujar Kato.
Peneliti menamai teknologi ini “Sound Spice®”. Pengguna transportasi darat, laut, dan udara bisa memakai alat ini sebelum naik kendaraan.
Keamanan teknologi juga menjadi perhatian utama. Paparan suara 100 Hz berada dalam batas aman yang umum dijumpai dalam kebisingan lingkungan sehari-hari.
Kagawa memastikan alat ini aman dan merekomendasikannya untuk digunakan setiap hari. Para peneliti kini mengembangkan versi praktis alat tersebut agar pengguna bisa membawanya bepergian dengan mudah.
Riset ini membuka peluang baru dalam teknologi kesehatan, khususnya untuk mengatasi mabuk perjalanan tanpa obat. Bagi penderita mabuk darat kronis, alat ini bisa menjadi solusi nyaman dan non-invasif.
“BACA JUGA : Contoh dan Manfaat Teknologi Tepat Guna dalam Kehidupan”
Dengan teknologi ini, perjalanan jauh bisa terasa lebih menyenangkan dan bebas dari rasa mual. Peneliti berharap alat ini segera tersedia luas untuk publik.
Artikel Teknologi Suara Ini Diklaim Mampu Atasi Mabuk Darat pertama kali tampil pada .
]]>